Dear Son, You Will Always be My Baby Boy!

i-love-you-son.jpg

Dear son, you will always be my baby boy. No matter what age you are.

Yes, saya lagi baper. Melankolis. Senang sekaligus sedih. Senang karena bulan ini si sulung akan berusia 10 tahun, sedih karena itu berarti dia memasuki masa pra-remaja dan sebentar lagi akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama kawan-kawannya dibandingkan saya, ibunya. *sigh*

Aah, time flies so fast, my dear son. Way too fast malah. Nggak kerasa banget, deh. Sungguh. Padahal sepertinya saya baru saja mengandung, melahirkan, menyusui (walau dengan bantuan sufor karena saya gagal memberikan ASI, hiks), menimang, dan mengganti popoknya. Tahu-tahu sekarang si sulung sudah hampir ABG. Semoga saya bisa selalu membimbingnya dengan baik, menjadikannya anak saleh dan qurrota a’yun. Aamiin.

Dear son, you will always be my baby boy. No matter what age you are.

Yes, saya masih ingat ketika pertama kali saya dinyatakan hamil oleh bu bidan dekat rumah tak lama setelah menikah. Kaget? Ya. Bahagia? Sudah pasti! Kaget-kaget bahagia gitulah. Maklum, namanya juga calon anak pertama. Jadi perasaan saya ketika itu campur aduk, bingung-bingung sedap, hehehe…

Baca Juga, Yuk: Ketika Si Kecil Menginap di Luar Kota Tanpa Kami, Orang Tuanya

Alhamdulillah, tidak ada kendala berarti selama masa kehamilan perdana saya. Boleh dibilang kehamilan yang sangat menyenangkan. Bahkan ketika hamil tua pun, saya masih asyik-asyik aja tuh mudik lebaran. Padahal rutenya lumayan jauh, lho: Surabaya-Jakarta! Naik pesawat, mungkin? No! Naik kereta? Nay!

Terus, naik apa, dong?

Mobil! Iya, MOBIL! 🙂

Masya Allah, mudik ketika hamil tua si sulung benar-benar asyik. Bukan cuma asyik, saya merasa inilah mudik paling nikmat sepanjang sejarah permudikan saya. Saya tidak pernah merasa sesehat itu sebelumnya. Biasanya minimal saya ada capek-capeknya gitu, deh. Maklumlah,  perjalanan jauh, saat lebaran pula. Bisa dibayangkan bagaimana macetnya. Jadi biasanya pas sampai tempat tujuan saya langsung molor. Sleep tight, don’t let the bed bugs bite, hehe…

Alhamdulillah, pas hamil tua si sulung, saya tidak merasa capek sama sekali. Happy and healthy. Beberapa masalah ibu hamil, seperti mual juga tidak terlalu saya rasakan. Nyaris nggak ada kendala sama sekali. So smooth, alhamdulillah.

Eneg-eneg kecil sih ada, tapi bukan masalah besar juga, sih. Paling banter ya saya jadi gampang ngantuk, hehe… Dan ketika memasuki trimester akhir, tubuh rasanya gerah banget. Keringat gampang sekali mengucur. Ketika itu saya masih bekerja dan AC kantor sedang rusak. Duh, nggak pede banget jadinya. BB nggak enak, deh, kayaknya, hihihi.

dear-son-i-love-you.jpg

Baca Juga, Yuk: Permainan Masa Lalu Si Pemalu

Dear son, you will always be my baby boy. No matter what age you are.

Saya juga ingat, saat si sulung –yang sekarang menginjak pra-remaja ini– masih berada dalam kandungan saya, tidak ada lonjakan berarti pada berat badan saya. Semuanya normal-normal saja. Meski begitu, namanya juga hamil, perut tampak membuncit, dong. Efeknya, baju-baju dan celana panjang kesayangan saya sudah nggak muat, terutama memasuki trimester akhir kehamilan. Apalagi dulu saya penggemar setia celana jins. Ya jelas lah ya, nggak muat lagi dipakai. Wong perut sudah melembung gitu, hehe…

Jadinya, saya harus belanja-belanji baju-baju khusus ibu hamil. Apalagi ketika itu saya masih kerja kantoran. Pastinya yang saya cari baju hamil modis, tapi tetap mengutamakan kenyamanan. Alhamdulillah, waktu itu dapat celana hamil warna pastel yang cukup okelah saya pakai. Bahkan, celana ini masih bisa saya pakai setelah nggak hamil. Tinggal disesuaikan saja talinya dengan perut kita.

Dear son, you will always be my baby boy. No matter what age you are.

Mungkin ini yang dirasakan semua orangtua di dunia. Tetap menganggap anak-anak mereka sebagai anak kecil meski masing-masing telah berkeluarga. Mungkin itu pulalah yang dirasakan almarhumah ibu saya saat saya memasuki masa remaja dulu. Segambreng aktivitas di luar rumah, yang alhamdulillah semua positif, saya lakoni saat usia saya belasan tahun. Dan saya merasa dalam beberapa hal almarhumah ibu –dan juga ayah saya– masih memperlakukan saya sebagai gadis kecilnya. Misalnya masih menyuapi saya ketika akan berangkat sekolah, mengantarkan saya ke tempat kursus atau bahkan menemani saya ketika ada kegiatan-kegiatan di luar sekolah.

Baca Juga, Yuk: Pojok Bermain Anak -100 Ide Permainan Seru dan Mendidik untuk Si Buah Hati

Dan ya, itulah yang sekarang saya rasakan.

Saya mulai baper membayangkan tak lama lagi sulung laki-laki saya sudah tidak mau lagi saya uyel-uyel dan cium di muka umum. Terbayang juga bagaimana dia nanti akan menemukan banyak aktivitas menyenangkan (yang positif tentu saja) di luar rumah, dan kesibukan-kesibukan lain yang akan menyita perhatiannya dan mengakibatkan frekuensi bermanja-manja dengan saya, ibunya, akan berkurang.

Semoga saya bisa terus mengarahkannya, membimbingnya, dan membuatnya tetap pada koridor norma agama.

I love you, son.

I love you!

Dan selamanya, you will be my little boy. No matter what age you are.

i-love-you.jpg

Advertisements

2 thoughts on “Dear Son, You Will Always be My Baby Boy!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s