Ketika Si Kecil Menginap di Luar Kota Tanpa Kami, Orang Tuanya

back-to-school-183533_1280.jpg

Aah, si sulung untuk pertama kalinya pergi bermalam tanpa kami, orang tuanya. Dia dan kawan-kawan sekolahnya sedang outbound ke luar kota. Dekat, sih, paling hanya 3-4 jam perjalanan dari rumah, tapi saya kok syediih. Maaf kalau blog post kali ini edisi curhat emak-emak mellow yang belum pernah pisah cukup lama dengan anaknya. *ambil tisu*

Bagi sebagian orang mungkin saya lebay. Tapi begitulah yang saya rasakan. Semacam tega nggak tega, rela nggak rela, mengizinkan tapi belum-belum udah mewek.

Norak, ih! Ah, biarin!

I just can’t stop this feeling. Bahkan, sehari menjelang keberangkatan ananda ke luar kota untuk outbound dua hari satu malam, saya sudah misek-misek membayangkan kerinduan yang teramat dalam *eciyee* padanya.

Gimana, ya, si sulung –anak lelaki saya satu-satunya– meski sudah kelas 4 SD tapi manjanya keterlaluan. Ngalem abis. Kurang mandiri. Tentu saya turut berperan dalam ketidakmandiriannya ini, I must admit.

Tapi sebenarnya saya sudah nggak kurang-kurang membimbingnya untuk lebih mandiri. Membiasakan dia melepas baju seragam dan meletakkannya di tempat pakaian kotor setiap pulang sekolah, membimbing dia supaya melepas sepatu dan menaruhnya di rak sepatu dengan baik, melatih dia untuk mengambil camilan  atau minumannya sendiri, dan lain-lainnya.

Well, unfortunately, those were just theories. Pakaian dibiarkan begitu aja di tempat dia melepas, sepatu memang ditaruh rapi tapi bukan di rak sepatu. Sudah gitu selalu minta camilan dan minumannya diambilkan. Hohoho. Kadang saya tidak menuruti keinginannya dan memintanya melakukan sendiri, tapi seringnya saya luluh melihat wajahnya yang memelas minta diambilkan. *sigh*

Dan hal-hal remeh inilah yang membuat saya jadi sedih dan yellow mellow tatkala si sulung harus overnight outing ke luar kota bersama teman-teman dan guru-guru sekolahnya. Kekhawatiran macam bisa nggak dia memilih bajunya nanti, gimana kalau dia ingin BAB, ngerti nggak dia baju kotor disimpan di mana, bisa nggak dia packing pas pulang, gimana kalau dia masuk angin, gimana kalau dia kejar-kejaran sama temannya di depan kamar mandi, dan lainnya, dan seterusnya.

Sebenarnya saya sudah briefing dia pada saat akan berangkat (busnya enak, euy. Besar, bersih, dan nyaman), tapi entahlah kekhawatiran itu masih aja ada. Namanya juga orang tua.

Lebay? Mungkin iya. But at least I knew I was not the only one.

Sehari sebelum my sweet little son capcus outbound, kami para ortu murid saling kasak kusuk ngobrolin persiapan outbound luar kota ini. Maklum, selama ini anak-anak belum pernah ada field trip yang menginap. Biasanya hanya field trip pulang pergi aja seharian, sih.

So, kami ngobrolin tentang apakah perlu bawa bantal, bekal apa yang dibawa buat perjalanan, perlu bawa jaket nggak, tas yang dipakai koper atau ransel, ya seputar itulah.

Sampai akhirnya beberapa emak curcol mau mewek karena baru pertama kalinya melepas anak menginap, di luar kota pula, tanpa ortu. Termasuk saya tentu saja :)))

Yeah, for the very first time, mengizinkan anak ke luar kota dan menginap tanpa didampingi saya ataupun suami bukan hal mudah. Bahkan saya sempat berencana nyusul si sulung ke tempat outbound, lho, kikikik…

Tapi nggaklah. Pertama, karena percuma aja, selain peserta outbound tidak diperkenankan masuk (karena lokasinya di pusdiklat). Kedua, dan yang penting, nih, saya juga tidak mau anak ikut-ikutan mellow padahal aslinya sedang have fun bersama kawan-kawannya.

Ketika saya dan beberapa ibu lain sedang syedih akan berpisah dua hari satu malam dengan si buah hati, eh dianya malah dengan semangatnya bilang, “Nggak sabar besok, nih.” Tetot. Patah hati ini. Eaaa…

Tapi alhamdulillah, zaman udah serba digital. Kecanggihan teknologi memudahkan kita berkomunikasi, termasuk berkomunikasi dengan guru sekolah atau wali kelas anak.

Nah, jadi buat emak-emak baper kayak saya, nggak usah bingung. Guru si sulung rajin meng-update kabar maupun foto-foto kegiatan dia dan kawan-kawannya biar emaknya tenang.

Etapi beneran tenang, tuh? Nggak. Malah kenceng meweknya! Malah kangen! Ya Allah!

Norak, norak, ih. Biariiiin!

Namanya juga lagi curcol, iya nggak? *wink wink.*

 

How to Cope

Bagaimanapun saya selaku orang tua nggak boleh egois dengan melarang atau menunjukkan kepada anak bahwa kita sebenarnya nggak tega melepasnya sendirian tanpa supervisi kami, orang tuanya.

Meski, ya, untuk first timer seperti saya dan hubby nggak mudah. Apalagi selama ini ke mana-mana kami selalu mendampingi buah hati kami. Belum pernah kami meninggalkannya bermalam sendirian, di luar kota pula. Eh pernah sih bermalam di rumah kakek-neneknya, tapi kakek-nenek saya anggap sebagai perpanjangan tangan kami, orang tuanya dan itu pun hanya semalam karena kalau kata Krisdayanti, kutak sangguuup… bila aku jauuh dari dirimu woowoo…

 

anak-pertama-kali-pergi-menginap.png

Photo via Pixabay

Selain itu, tujuan si sulung menginap di luar kota juga bagus, untuk field trip alias outbound alias kegiatan outdoor di luar sekolah, bukan sleepover yang nggak jelas juntrungannya, kan? So no need to worry too much. Seharusnya. Se-ha-rus-nya.

Saya yakin banget kegiatan ini adalah salah satu pengalaman yang sangat dinantikan anak-anak. So, saya nggak boleh memikirkan diri sendiri. Saya harus bisa empati, merasakan apa yang dia rasakan.

Put oneself in else’s shoes. Pikirkan betapa excited-nya dia, so I have to feel his excitement too. Lagi pula, saya sudah membekalinya dengan sedikit –eh banyak, ding– wejangan sebelum dia berangkat outbound. Di antaranya, selalu mendengarkan instruksi dari guru, tidak bercanda berlebihan dan yang membahayakan, tidak pergi ke luar area outbound atau pergi sendiri tanpa rombongan, dan selalu bilang ke guru pendamping kalau ada atau perlu sesuatu (misal perut sakit butuh minyak kayu putih, ingin BAB, haus, tidak nyaman, dan sebagainya).

Saya juga sudah membekalinya dengan baju ganti, baju sholat, perlengkapan tulis, dan snack serta mengajarinya packing dan menyimpan pakaian kotor.

Saya dan ibu-ibu lain juga sudah menitipkan anak kami ke guru-guru pendamping dan kami harus percaya penuh kepada mereka. Mereka adalah orang tua kedua bagi anak-anak kami di sekolah –dan di kegiatan-kegiatan luar namun berkaitan dengan sekolah.

Saya juga sebisa mungkin tidak menunjukkan ekspresi kebaperan saya pada si sulung karena saya tidak mau dia jadi gelisah di perjalanan dan akibatnya tidak menikmati kegiatannya. Dan alhamdulillah, saya tidak mengeluarkan kata-kata semacam ini.

Duh, Bang, rumah jadi sepi, deh, kalau nggak ada kamu dua hari ini.

Bang, kita syedih banget kalau kamu pergi. Nggak usah pergi aja, ya, Nak?  #eh

Dan terakhir, ketika dia akan benar-benar berangkat, saya dan hubby memberikan senyum termanis kami dan wajah kami memancarkan kebahagiaan, bukan kesedihan (padahal mah saya baper banget nget). Untung saya ngga menitikkan air mata, padahal saya tuh gampang banget nangis. Soalnya gini, a tearful goodbye dari orang tua dapat diinterpretasikan anak sebagai kegalauan orang tua membiarkannya pergi.

Wah, orang tuaku nangis, jangan-jangan mereka sebenarnya nggak mau aku pergi.

Orang tuaku sedih, aku jadi ikut sedih. Apa aku nggak jadi berangkat aja, ya? #eh (lagi)

Tip lagi, nih. Meski baper-baper gini, yakinkan diri bahwa anak pergi untuk tujuan baik, sebagai bagian dari pembelajaran di luar sekolah. Ini akan menjadi pengalaman besar dan kesempatan yang sangat bagus bagi anak untuk lebih mandiri dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Pastinya, sih, tidak semua berjalan mulus. Tentu ada perjuangan dan kesulitan bagi anak yang baru pertama kali pergi bermalam tanpa orang tuanya. Tapi ini adalah salah satu bagian dari pengalaman hidupnya dan manusia biasanya belajar lebih baik tentang diri sendiri dalam masa-masa sulit ketimbang masa-masa indah.

Saya percaya, anak saya jauh lebih kuat dan mandiri dari yang saya pikirkan. Dan dengan dukungan, bimbingan, serta kerelaan kami, orang tuanya, dalam mengizinkan dia pergi outbound hari ini , saya yakin dia berkesempatan tumbuh berkembang jauh di luar ekspektasi saya, insya Allah.

Selalu ada yang pertama dalam segala hal, dan yang pertama itu memang nggak selalu mudah (walau nggak selamanya sulit tentu saja). Dan mudah-mudahan yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya saya udah easy peasy aja. Nggak yellow mellow alias udah selow. Semoga! 🙂

Wes gitu aja curcol saya. Besok disambung lagi, eh ganti cerita maksudnya. Salam baper!

 

 

 

Advertisements

10 thoughts on “Ketika Si Kecil Menginap di Luar Kota Tanpa Kami, Orang Tuanya

  1. Hihihihi, nice sharing mba 🙂 jadi inget jaman aku ngelepas Raya dititip di daycare, Ibu aku bilang kalau kamu ikhlas & ngga terlalu sedih pasti Raya di daycare jg hepi & ngga kepikiran. Karena koneksi batin antara Ibu & anak itu kuat jadi kita harus kuat2in banget demi kemandirian anak.. :’)

    Liked by 1 person

  2. aku dlu jg baper mbk wktu pertama kali ninggal si kecil, khawatir dia bakal nyarik in, tapi ternyata, kekhawatiranku itu gk terjadi mbk, si kecil emng nanyak aku dimana, tp bgitu diksih tau, dia nyantai aja. tu anak emang cool bgd dah ah, tengkiu share pengalamannya ya mbk

    Liked by 1 person

    • pelan-pelan aja, Mba… emang susah banget. mungkin bisa dimulai kalau ada kegiatan sekolah kaya pengalan saya tempo hari :).
      Thanks for visiting ya Mba…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s