Living the Digital Life, Why Not?

living-a-digital-life-why-not.png

Digital technology is changing the face of entertainment, which is helping to transform peoples’ lifestyles and create exciting new business opportunities ~ Paul Otellini

Sebenarnya saya bukan gadget geek atau technofreak. Bahkan, saya tidak begitu tertarik dengan fenomena menjamurnya ponsel dengan segala fitur-fitur kekiniannya dan cenderung menyikapinya dengan biasa-biasa saja.

Maksudnya begini, ketika banyak orang membicarakan merek smartphone terbaru, misalnya, saya tidak serta-merta langsung cus mencari tahu spesifikasinya, fitur-fiturnya, review produknya, atau apapun yang berkaitan dengan itu.

Meski kudet soal gadget, saya termasuk orang yang aktif memanfaatkan kemajuan teknologi, terutama teknologi digital. Berbekal PC, laptop, dan koneksi internet dengan kecepatan cukup tinggi dan stabil, saya dan suami mencoba “berteman akrab” dengan teknologi digital. Ya, we are living the digital life, meski tidak completely.

Semua bermula pada 2009 lalu, ketika suami memasang internet di rumah untuk keperluan kerja. Kami pun hobi browsing sana-sini hingga akhirnya saya mendapatkan freelance rewriting job dari sebuah situs luar.

Tak lama, suami mendapat tawaran kerja full-time secara remote dari mancanegara. Dengan pertimbangan matang, tawaran itu diterima. Suami akhirnya resign dari pekerjaannya dan menjalani hari-hari sebagai “pekerja kantoran” jarak jauh. Hingga detik ini.

Selain untuk bekerja, kami juga memanfaatkan kemajuan teknologi digital untuk banyak hal, yang positif tentunya. Mau tahu seperti apa? Ini dia gambaran singkat tentang living the digital life a la kami.

1. Kerja secara Remote dan Freelance

living-the-digital-life(5).jpg

Tidak dapat dipungkiri, saat ini sarana mencari pekerjaan kian mudah. Lihat saja betapa banyaknya situs lowongan kerja, baik lokal maupun internasional.

Selain itu, saat ini juga menjamur freelance talent marketplace atau crowdsourcing marketplace, seperti Upwork (dulu Elance-oDesk), Freelancer, Guru, Fiverr, 99designs, Zillion Designsdan masih banyak lagi (googling sendiri, ya!).

Jadi, jika kalian memiliki kemampuan di bidang penulisan dan penerjemahan, desain grafis, desain web, digital marketing, atau apa saja, kalian bisa banget mengembangkan potensi –plus dapat dollar tentunya– secara online.

Selain untuk para freelancer, teknologi digital juga memberi kesempatan bagi mereka yang ingin kerja full-time namun secara remote (jarak jauh). Jadi tidak perlu datang ke kantor, tidak perlu mandi dulu kalau kebetulan sedang malas mandi (maklum musim hujan), tidak perlu “tua” di jalan karena macet, bisa sambil sarapan sama istri (eh!), dan bahkan bisa sambil nongkrong di kedai kopi!

Intinya, kerja freelance maupun remote ini menawarkan “kebebasan.” Bebas menentukan waktu kerja, bebas bekerja dari mana saja (di pantai sekalipun!) asal terhubung dengan internet, dan bebas dari kemacetan. Tapi tentu saja tidak bebas tanggung jawab alias profesional.

Tentang jam kerja, untuk kerja remote, meski 8 jam per hari, biasanya kita diberi kepercayaan mengatur waktu kita sendiri karena perbedaan zona waktu. Misalnya, klien di US, kalau mereka kerja 9 to 5, di sini berarti malam hingga subuh. Kurang ideal, kan?

Nah, biasanya klien memberi solusi kerja 4 jam di pagi hari, dan 4 jam di malam hari. Atau tidak harus strict begitu. Toh saat ini banyak aplikasi time tracking yang memudahkan para pekerja remote atau freelance mencatat waktu kerja mereka. Toggl, misalnya.

Selain Toggl, aplikasi lain yang digunakan untuk menunjang kerja dari rumah antara lain Trello (untuk mengatur tasks),  Google spreadsheet, Dropbox, email,  Filezilla (untuk transfer files), Hangout, Skype, dan Telegram

Menjalani pekerjaan secara online tampaknya menyenangkan. Indeed! Namun, ternyata tidak semudah yang dibayangkan, lho! Godaan seperti ingin tidur atau main dengan anak kerap muncul. Beda dengan di kantor, suasananya benar-benar suasana kerja.

Disiplin, itu kuncinya. Dan mengatur waktu sebaik mungkin agar tidak “terganggu” oleh anak-anak. Misalnya mengambil waktu kerja di pagi hari ketika anak-anak sekolah dan malam hari ketika anak sudah tidur.

2. Blogging dan Berinteraksi di Medsos

living-the-digital-life(4).jpg

Yang ini sudah jelas. Bagi mereka yang suka menulis, termasuk saya, blogging adalah salah satu aktivitas online favorit. Ada beberapa platform untuk ngeblog. Wordpressmisalnya.

Sementara media sosial (medsos), hampir semua orang setidaknya memiliki akun di salah satu jejaring sosial ini: Facebook,  Twitter, Instagram, Pinterest, Tumblr, Ask.fm, Linkedin, Snapchat, Periscope,  dan… well, you name it!

Bagi blogger, medsos penting untuk berbagi postingan blog terbaru mereka.

3. Berbelanja Online

living-the-digital-life(3).jpg

Saya, dan mungkin mayoritas emak-emak di seluruh dunia, tentu senang dengan maraknya olshop maupun online e-commerce marketplace. Apalagi kalau Instagram kita ditinggali “jejak” oleh mbak-mbak admin olshop, dengan kata-kata imut seperti, “Bajunya, Kakak. Bagus dan murah, lho! Cek IG kami, yah, Kakak!”

Hwaa… emak-emak mana yang tidak penasaran dibuatnya!

Saya sempat beberapa kali beli baju dan mainan anak secara online. Kue dan buku juga pernah. Cuma ya itu, kalau beli baju harus yakin betul ukurannya, salah-salah kalau nggak kegedean, ya kekecilan.

Nggak hanya itu, adanya  online e-commerce marketplace seperti ini bisa membuat kita compare prices dalam satu waktu. Sedangkan kalau belanja langsung ke toko atau mal tentu tidak bisa seleluasa itu membandingkan harga.

4. Sekolah atau Kursus Online

living-the-digital-life(9).jpg

Ini juga salah satu bentuk kemajuan teknologi digital yang pernah saya manfaatkan. Saya pernah enam bulan menjadi siswi di sebuah universitas online. Saya mengambil kelas setara kursus saja, karena masih tahap mencoba, jadi bukan yang bergelar. 

Kursus berlangsung seminggu sekali, tiap weekend (mungkin karena banyak yang bekerja), dengan durasi dua jam, dengan pengajar dari mancanegara dan murid dari berbagai belahan dunia. Platform yang digunakan WizIQKarena perbedaan time zone, saya terpaksa harus belajar tengah malam. Begitu anak-anak terlelap, saya yang hanya berdaster bisa mulai kursus.

Meski jarak jauh, kursus online ini nyaris tak ada bedanya dengan kursus di dunia nyata. Ada kesempatan murid bertanya ketika sesi berlangsung, ada PR, ada exam dan final exam. Meski online, jangan harap bisa nyontek saat exam, karena setiap soal ada timer-nya (kecuali kita bisa browsing secepat kilat kemudian secepat kilat pula mengisi lembar jawaban. Tapi, ah, itu namanya curang, gaes!).

5. Webinar dan Launching Buku Secara Virtual

living-the-digital-life(1)

Ya, era digital memungkinkan kita terlibat dalam berbagai hal, tak mengenal tempat dan waktu. Seperti ketika seorang penulis perempuan muslim Inggris meluncurkan buku kumpulan prosa dan puisinya tahun lalu, saya antusias ingin “menghadirinya” secara virtual.

Peluncuran ini menggunakan software Webinarjam. Sayangnya, karena perbedaan time zone, saya batal ikut karena ketiduran! Duh!

6. Order Makanan, Tiket Kereta Api atau Pesawat Online

living-the-digital-life(2).jpg

Kecanggihan teknologi juga memudahkan kita order makanan online. Hal ini cukup membantu kami ketika hujan deras dan tidak ada makanan di rumah. Nggak sering-sering juga, sih, sesekali aja.

Tidak perlu keluar rumah atau keluar pulsa untuk menelepon (yang biasanya biayanya cukup mahal), kita tinggal klak-klik-klak-klik, done! Makanan pun tiba di depan pintu dalam waktu yang relatif singkat. Tapi, siap-siap lembaran rupiah yang banyak, ya!

Selain makanan, kita juga tidak lagi ribet ketika akan bepergian. Tinggal buka website ticketing online, pilah-pilih, done!

7. Cari Informasi dan Hiburan

living-the-digital-life.jpg

Ini yang paling sering dilakukan orang kekinian, termasuk saya, ketika membuka PC/laptop/tablet/smartphone. Browsing ke portal berita, hiburan, Youtube, majalah online, laman lifehacks/lifeguide untuk para emak seperti rockingmama.id, streaming televisi, dan lainnya silakan googling sendiri, ya?

Selain itu gadget juga digunakan untuk mengunduh aneka apps seperti games atau aplikasi digital yang sulit saya sebutkan satu per satu saking banyaknya.

 

Tetap Berinteraksi di Dunia Nyata

living-the-digital-life(7).jpg

Kami memang living the digital life. Tapi kami tidak ingin sepenuhnya hidup bersama teknologi digital. Kami tetap harus menjalani kehidupan di dunia nyata, berinteraksi langsung dengan tetangga dan keluarga.

Itu sebabnya, suami memilih menggunakan PC sebagai sarana bekerja (selain karena laptop yang mumpuni untuk desain tergolong mihil, ya, hehe…). Karena memakai PC, ketika berlibur, suami tidak akan membawa pekerjaan ke tempat liburan. Libur, ya libur!

Bagaimana dengan kalian?

Share pengalaman kalian bersama teknologi digital di kolom komentar ini, yuk!

 

banner

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Konten Viral “Digital Lifestyle” supported by Indihome.

 

 

 

 

Advertisements

12 thoughts on “Living the Digital Life, Why Not?

  1. Daku juga salah satu yang mendapat pekerjaan karena digital, dan Alhamdulillah sejak resign dari kantor tahun 2011, semua pekerjaan dilakukan secara remote 🙂
    Anak-anak juga dari kecil udah dikasih tau tentang internet, tapi tetap dengan batasan dan perjanjian jam pakai 😀

    Liked by 1 person

    • Mak Indah Juliii… Aah, senangnya tulisanku dibaca penulis top. Merci, Merci banget ya, maak :)))

      Alhamdulillah ya Mak, kemajuan teknologi kl dimanfaatkan secara positif bisa menghasilkan sesuatu yang positif juga. Cuma kl sy blm bisa yg full time remote gitu. Msh freelance2 aja, maklum msh momong krucil, hihihi… Suami yg sudah full time.

      Tapi kl mak Indah mau nawarin kerjaan remote buat saya, saya welcome banget, lho, hehehe…

      Thanks for sharing ya Mak… Sukses selalu buat Mak Indah n keluarga 🙂

      Like

    • iya, Mba…
      apalagi untuk anak2, harus ada kontrol yang kuat –meski bukan berarti melarang anak berteknologi sama sekali.

      bener2 harus n wajib pantau apa2 saja yang dilakukan anak di dunia maya.

      thanks for visiting, anyway 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s