Bernostalgia Bersama ‘Gadis Paling Badung di Sekolah’

Ceritanya, nih, saya lagi pengin nulis yang ringan-ringan aja. Lagi pengin bernostalgia dengan buku-buku masa kecil. Kebetulan juga momennya masih belum terlampau jauh dari International Children’s Book Day (ICBD) yang jatuh 2 April lalu. So, masih oke, dong, ngobrolin ini.

Dulu, saya suka banget sama buku-buku dongeng atau buku-buku cerita anak. Eh, sampai sekarang masih suka juga, sih. Komik? Nggak terlalu suka. Saya hanya suka komik-komik tertentu, misalnya Donal Bebek, Lucky Luke, dan Tintin. 

Ah, hampir lupa: serial Mimin!  Iya, si Mimin yang sukanya gelendotan sama si emak tersayang. Duh, suka baper, deh, kalau baca ceritanya si Mimin. Kadang ketawa-ketiwi sendiri, kadang mewek-mewek nggak jelas. Meski dibaca berulang kali, tetap aja begitu: baper! Doh!

Kembali ke buku cerita, sebenarnya ada banyak yang saya suka. Tapi di antara semua buku anak (dan remaja) kala itu, saya paling suka buku-buku karya Enid Blyton. Dan di antara sederet karya penulis wanita legendaris asal Inggris itu, Gadis Paling Badung di Sekolah adalah favorit saya.

Gadis Paling Badung di Sekolah merupakan alih bahasa dari versi bahasa Inggris yang berjudul The Naughtiest Girl in the School. Ini merupakan seri pertama dari empat seri novel Gadis Paling Badung (The Naughtiest Girl). Lebih rincinya gini, nih: seri 1-Gadis Paling Badung di Sekolah (diterbitkan pada 1940), seri 2-Sekali Lagi Si Paling Badung (The Naughtiest Girl Again, 1942),  seri 3-Si Badung Jadi Pengawas (The Naughtiest Girl is A Monitor, 1945) dan Ini Dia Si Paling Badung (Here’s the Naughtiest Girl, 1952).

Dari keempat seri itu, hanya Ini Dia Si Paling Badung yang belum pernah saya baca. Sementara tiga seri lainnya, sudah, dong. Dibaca bolak-balik malah dan nggak pernah bosan! Tapi sayang sekali, sejak menikah dan pindah dari rumah orangtua, saya tidak tahu di mana novel-novel remaja kesayangan saya itu berada.

gadis-paling-badung-di-sekolah-novel-enid-blyton-yang-paling-saya-suka-(5).jpg

Tokoh utama serial  Gadis Paling Badung (The Naughtiest Girl), Elizabeth Allen, awalnya memang manja dan menyebalkan. Namun pada akhirnya dia menjadi sosok yang tangguh dan penuh empati. (photo via stylist.co.uk)

Gadis Paling Badung di Sekolah berkisah tentang Elizabeth Allen, seorang gadis manja yang merasa tidak nyaman ketika orangtuanya menyekolahkan dia ke sekolah asrama putri Whyteleafe. Ia sama sekali tidak senang dengan keputusan orangtuanya ini. Maklum, biasa tinggal di rumah mewah dan serba berkecukupan –dan segalanya serba diladeni– melakukan segala sesuatunya sendiri di asrama membuatnya tertekan.

Belum lagi peraturan-peraturan yang dibuat oleh pihak asrama makin membuat Elizabeth berontak dan pada akhirnya berulah. Puncaknya, ia memutuskan untuk menjadi anak paling badung di sekolah! Tapi ternyata hasilnya jauh di luar dugaannya. Asrama justru membuatnya menjadi sosok Elizabeth yang berbeda. Elizabeth yang mandiri, bukan si manja. Elizabeth yang penuh empati, bukan si egois. Perubahan ini tentu membuat orangtuanya kaget sekaligus bahagia.

Dulu, setiap kali membaca buku Gadis Paling Badung di Sekolah, saya merasa seperti masuk ke dalam kisah tersebut. Kisah Elizabeth terasa begitu nyata. Dan sosok Elizabeth meski menyebalkan di awal-awal cerita ternyata justru menjadi sosok remaja perempuan idaman: pemberani, pembela yang lemah, berkarisma, dan tegar. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Sampai-sampai saya pernah berangan-angan menjadi seperti Elizabeth, lho! Apalagi dulu saya termasuk anak tomboi, cuek, ya mirip-mirip kayak Elizabeth gitu, deh. Bedanya, saya nggak tengil, usil, apalagi arogan. Saya cenderung pemalu, nggak banyak omong, tapi tegar. *uhuk*

enid blyton

Enid Blyton

gadis-paling-badung-di-sekolah-novel-enid-blyton-yang-paling-saya-suka-(3).jpg

Helena Bonham Carter memerankan sosok Enid Blyton dalam Enid, film tentang kehidupan sang penulis yang ditayangkan di TV BBC4, 2009 silam. (photo via Daily Mail)

Dalam mengemas cerita-cerita anak-remaja seperti ini, Enid Blyton nggak perlu diragukan lagi. Dialah pakarnya. Tema-tema cerita yang ditawarkan sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, plus penuh pesan moral. Kisah-kisah tersebut dikemasnya dengan sangat natural dan dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak.

Terlahir dengan nama lengkap Enid Mary Blyton, wanita kelahiran London, 11 Agustus 1897 –dan meninggal dunia pada 28 November 1968– ini memang dikenal sebagai penulis cerita anak-anak best-seller sejak 1930-an.

gadis-paling-badung-di-sekolah-novel-enid-blyton-yang-paling-saya-suka-(1).jpg

via Tokopedia

Selain serial Gadis Paling Badung, buah karya Enid lainnya yang populer sepanjang masa –dan tentu saja saya sukai– adalah buku-buku saku seperti Si Babi Ungu, Tommy Si Pengadu, Cermin Ajaib, Anak dalam Cermin, dan Tiga Permintaan. Ada juga serial Lima Sekawan (The Famous Five), Malory Towers,  Sapta Siaga (The Secret Seven), dan beberapa serial misteri.

gadis-paling-badung-di-sekolah-novel-enid-blyton-yang-paling-saya-suka-(2)

via Bukalapak

Duh, gara-gara nulis ini jadi pengin koleksi buku-buku Enid Blyton lagi!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

13 thoughts on “Bernostalgia Bersama ‘Gadis Paling Badung di Sekolah’

  1. opipolla says:

    Aku penggemar Malory towers! Bacaan jalan smp ini mahhh hihi
    Rameee . Kmaren sempet beli lagi yg sepaket gitu trus baca ulang.

    Pengen baca yg cewe paling badung ah kapan2 😍

    Liked by 1 person

    • aku malah jadi pengin baca Malory Towers. dari sampulnya kelihatannya bagus. diagendakan, ah, beli ini 😉

      iya mba, baca gadis paling badung, deh. dijamin termehek-mehek, hehe…

      makasih udah baca n komen tulisan tsurhatku ini, ya, Mba… much appreciated!

      Liked by 1 person

  2. Aha Enid Blyton ini pengarang favorit saya mbak. Beruntung banget meski tinggal jauh di kampung sejak SD sudah disuplai buku2 Enid sama saudara yg ada di kota hehe. Bahkan saking sukanya akhirnya serial si badung lah yg saya jadikan topik skripsi hihihi

    Liked by 1 person

    • aah… senang rasanya bisa berbagi lewat tulisan, Mba :). makasih kembali sudah mau baca tulisan saya :).

      saya ngga tau apa sekarang masih dijual di Gramedia or ga. yang jelas covernya yang versi terbaru udah ngga kayak yang saya upload di sini. lebih kartun gitu.

      minggu lalu saya ke Gramed belum nemu, mungkin belum ngubek-ngubek bener-bener :).

      Kalo second-nya, sih, kemarin aku lihat banyak Mba dijual di toko2 online.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s