‘Berdamai’ dengan Badut

clown

Sejak kecil, saya tidak suka badut. Saya takut. Berbeda dari kebanyakan anak kecil yang senang dan bahkan berlomba-lomba bersalaman atau berfoto bersama sosok di balik kostum dan masker tersebut, saya memilih menjauh, menghindar, kalau perlu sembunyi.

Dalam pikiran saya, badut sama sekali bukan sosok lucu, apalagi menghibur. Justru kesannya creepy creepy gimana, gitu. Besar, perut gendut, hidung bulat tebal seperti tetot-tetot, bertopeng atau ber-makeup super tebal, sudah gitu bergoyang-goyang sambil dadah-dadah pula. Phew! 

Nggak tahu, ya, badut apapun itu –entah badut lucu seperti karakter kartun favorit anak-anak atau malah badut yang memang berwajah menakutkan seperti Joker– tidak pernah berhasil menghibur saya. Kadang-kadang, agak irasional juga, saya membayangkan badut adalah sosok antagonis bertopeng yang selalu mengganggu anak-anak. Kayak film-film thriller gitu, deh, pokoknya.

Saat masih kecil, ketika diajak berlibur ke theme park, saudara-saudara saya woles aja didatangi dan disalami badut sebuah produk makanan ringan zaman dulu (boleh nyebut nama, nggak, ya? ah, nggak usah aja, deh). Saya? Makasih, deh. Boro-boro salaman, lihat aja ogah. Yang ada malah deg-deg-plas luar biasa. Parahnya, nih, pernah walau sudah berusaha menghindar sekuat tenaga, eh… cilukba… dari sisi yang lain muncul badut yang lain. Saya dicolek-colek dan diajak salaman. Kalau begini situasinya, ya, apa mau dikata. Terpaksa salamanlah tapi jantung berdetak kencang. Ho!

Saya pikir saya satu-satunya orang di dunia yang takut dengan badut. Melihat fakta hampir semua theme park memiliki badut dan mendapat respon sangat baik dari pengunjung, terutama anak-anak. Pun ketika ada pesta untuk anak-anak, badut sering menjadi penghibur utama.

Well, setelah baca-baca, googling sana-sini, ternyata saya tidak sendirian. Ada juga, lho, yang takut badut. Ketakutan terhadap badut yang teramat sangat disebut coulrophobia. Tentu, kadar ketakutan tiap-tiap orang berbeda. Ada yang ringan, ada yang sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Mungkin fobia saya berada pada level paling bawah. Ringan. Sebab saya hanya takut bertatap dan melakukan kontak fisik dengan badut.Tapi, jangan remehkan fobia badut ini. Jangan pula mentertawakan orang yang fobia badut. Sebab, coulrophia yang parah dapat mengakibatkan individu mengalami panic attack, termasuk susah napas, keringat berlebih, dan sebagainya. Nah, kalau sudah ada gejala serius seperti ini, ada baiknya meminta bantuan profesional.

Pertanyaannya, apa, sih, penyebab fobia badut? Dari yang saya baca-baca, sih, belum ada hasil penelitian signifikan tentang penyebab pastinya. Tapi,  menurut Joseph Durwin, Trinity University Specialist, ada dua alasan yang mungkin bisa menjadi pemicu fobia ini. Salah satunya, kejadian menyeramkan bersama badut  di masa kecil. Teori Durwin lainnya adalah penggambaran kurang menyenangkan tentang badut di media sehingga makin mendorong rasa takut tersebut. Ditambah lagi munculnya “killer clown” di berbagai film Hollywood, ugh makin bikin takut!

Pertanyaan lainnya, gimana caranya menaklukkan fobia ini? Well, sama seperti fobia-fobia lainnya, “berdamai” dengan sang badut mungkin bisa menjadi jalan keluar.Saya pernah dengar, orang yang fobia ketinggian, misalnya, di-treatment dengan sering-sering berada di ketinggian. Itu juga yang saya lakukan untuk mengatasi ketakutan saya terhadap badut.

Seiring bertambahnya usia, saya malu, dong, terus-terusan takut badut. Apalagi saya sudah emak-emak, nggak asyik banget kalau anak-anak jadi ikutan fobia hanya gara-gara melihat emaknya lari tunggang langgang ketika berhadapan dengan badut.

Jika berada di theme park atau di tempat yang kebetulan ada badutnya, saya mencoba memberanikan diri. Tidak langsung ekstrem, tentu saja: berjumpa, salaman, ngobrol-ngobrol sok akrab, dan sebagainya, dan sebagainya. Berani berpapasan saja sudah bagus. Sambil take a deep breath, yakinkan diri bahwa badut hanyalah pakaian luarnya saja. Di balik topeng, bedak mbeluk, dan aksesori aneh lainnya, ada sosok manusia, sama seperti kita.

Bayangkan, bahwa badut adalah sosok lucu penghibur anak-anak, bukan sosok mengerikan seperti di film-film thriller Hollywood. Kalau belum berani dengan badut yang sosoknya seram seperti Joker, coba dulu berhadapan dengan badut-badut karakter kartun yang imut-imut menggemaskan. Bayangkan saja yang lucu-lucu dan indah-indah. Dengan begitu, nggak ada yang perlu ditakutkan lagi, kan? 🙂

 

 

 

 

Advertisements

18 thoughts on “‘Berdamai’ dengan Badut

    • Iya, g ada lucu2nya sama sekali. biarpun badut teletubbies, barney, apa aja, tetep g lucu bagi saya. Tapi alhamdulillah sekarang mulai berani, mak. ya walau cuma sekadar berpapasan. kalo salam2an n foto2an masih belum mau hihihi. makasih dah mampir ya mak dwi. salam kenal juga 🙂

      Like

  1. Hihihiy… setelah membaca ulasan dari emak yang keren bingits ini baru ngeh kalau takut sama badut tuh wajar yaaaa… emang gak lucu-lucu amat sih tuh badut. Tapi Alhamdulillah saya biasa aja sih.. enggak takut dan enggak suka juga…

    Liked by 1 person

    • makasih udah mampir Mak Ella. alhamdulillah Mak, ga pake acara takut badut, ya? hebat, euy. Saya udah mulai berani, tapi dikiiit 😀
      Salam kenal ya…

      Like

    • wah… saya banget itu, mak.
      tapi dulu, sekarang sih udah mendingan. ya masih takut2 gitu sih, hihihi
      mendingan g usah ketemu badut deh.
      salam buat buah hatinya, ya, Mak. thanks udah mampir.

      Like

  2. salah satu temenku ada yg bgitu nih mba… lari tiap liat badut… aku ga ngerti juga sih apa yg bikin dia takut, krn tiap dijawab, ga pernah jelas alasannya… anakku sayangnya juga awal2 liat badut dia takut… tp aku jelasin kalo itu cuma manusia yg didandanin bedak putih..dan untungnya akhir2 ini dia jd berani stlh aku jelasin..

    Liked by 1 person

    • Halo Mba Winda…
      waduh, sama kita ya :). Memang creepy2 gimana gitu si badut. Mudah2an sekarang2 makin berkurang ya takutnya. Saya juga lagi berusaha nih, malu euy sama anak2 hihihi.
      Thanks udah BW ke sini ya, Mba.

      Like

  3. Aq dulu juga takut badut yang jenis idung lebar dan muka dicorat coret, gara2 film horor. Sekarang udah enggak lagi karena mikir dibalik itu semua, ada manusia2 yang sedang bekerja keras bahkan untuk menghidupi diri dan keluarganya.

    Like

    • Makasih udah mampir ya, Mba. Iya, bener yang Mba bilang. Di balik sosok menyeramkan itu adalah orang yang tengah mencari nafkah utk keluarganya. Mudah mudahan mindset seperti ini bisa membantu org2 yang fobia badut seperti saya.
      Terima kasih sekali lagi :).

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s