Sudah Cukupkah Bekal Kita?

Kullu nafsin dzaa iqatul maut.

Setiap yang bernyawa pasti mati. Pasti. Tak satu pun makhluk dapat lolos dari jeratan maut. Semua. Siapa pun itu. Tua-muda, kaya-miskin, cakep-biasa-biasa saja, lelaki-perempuan, pada gilirannya semua akan berpulang kepada-Nya, Sang Maha Pencipta. Hanya soal waktu.

lanskap

Kapankah giliran kita? Wallahu a’lam bishawab. Jodoh, rezeki, maut, semua hak prerogatif Allah, Sang Mahakuasa. Tak seorang manusia pun dapat menjawabnya.

Di tengah pertanyaan tentang kapan garis finish kita tiba, pernahkah terpikir sudah siapkah kita menuju ke “sana?” Saya pernah, dan bahkan sering.

Saya kerap bertanya pada diri sendiri, sudah cukupkah bekal saya untuk menggapai tiket menuju jannahNya yang indah? Atau justru saya terlena dengan urusan duniawi sehingga melupakan sangu untuk akhirat? Atau sebenarnya saya tidak lupa, namun lalai melakukan amalan-amalan yang sebenarnya dapat mengantarkan manusia ke pintu surga?

Ada kalanya kabar kematian orang-orang, terlebih orang yang kita cintai, dapat menjadi self-reminder terhadap kematian. Bahwa hari ini si fulan dipanggil Yang Mahakuasa. Siapa yang menjamin saya masih hidup besok? Sudah siapkah saya dijemput sang malaikat maut?

Jujur, saya sempat larut dalam nestapa yang teramat dalam ketika ibunda tercinta meninggal beberapa bulan lalu. Sempat berdialog dengan diri sendiri mengapa rasanya begitu cepat ibu meninggalkan kami, bagaimana perjuangan beliau ketika dirawat di rumah sakit sebelum menghembuskan napas terakhir, dan terutama bagaimana rasanya ketika ruh berpisah dari raga, mulai ujung kaki hingga kepala.

Sempat pula terpuruk dalam kesedihan cukup lama, saya pun termenung dan akhirnya disadarkan bahwa berpulangnya ibu merupakan pengingat bahwa saya pun akan mengalami hal serupa. Jika waktunya tiba, saya pasti akan meninggalkan hiruk pikuk dunia ini selama-lamanya. Terlebih ketika saya berziarah ke makam ibu, saya makin tersadar akan kematian.

Usai berziarah, tangis saya tak terbendung lagi, Saya menangis sejadi-jadinya. Menangis karena mengenang segala kebaikan ibu, itu sudah pasti. Lainnya, saya menangis karena mengingat kematian.

Saya merasa bekal untuk menuju rumah abadi masih sedikit, bahkan amat sangat minim. Masih banyak amalan yang belum saya lakukan. Perilaku saya juga masih banyak yang harus diperbaiki.

Saya harus berbenah. Ya, berpulangnya ibu kepada Sang Pencipta telah melecutkan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan membekali diri sebaik mungkin agar siap ketika waktu saya tiba. Namun saya sadar, namanya manusia, iman bisa bertambah dan berkurang.

Semoga istiqomah.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s